Perikanan Bitung Primadona Yang Kini Merana *)

0
724
Nelayan daratkan hasil tangkapan di Pelabuhan Perikanan Samudera, Aertembaga, kota Bitung, Sulut

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pujiastuti dalam tiga tahun terakhir disebut-sebut oleh pengusaha industri perikanan maupun pejabat di daerah ini, sebagai biang keladi redupnya kilau kaleng ikan. Para pengusaha perikanan modal besar di Bitung, Sulawesi Utara, sungguh merasa shock dengan berbagai moratorium, seperti operasi kapal eks asing, dan alih muat (transipment) yang diberlakukan Susi. Para pengusaha pun menuding Susi sengaja membunuh dunia perikanan di Kota Bitung.

Saya tidak mau ikut-ikutan menyalahkan Menteri Susi, karena sesungguhnya kebijakan-kebijakan Susi berdasarkan nilai-nilai dasar untuk mengayomi, nelayan kecil dan yang lebih penting melalui kajian strategis pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. Dari beberapa kali berinteraksi dengan Menteri yang hanya tamatan SMP itu, ternyata Susi menginginkan agar pengusaha-pengusaha perikanan di Kota ini jujur, tidak mengirim ikan secara illegal ke negara tetangga, terutama Filipina.

Bahkan di awal masa jabatannya Menteri Susi enggan datang ke kawasan industri perikanan terbesar di Indonesia ini. Seorang kawan wartawan sempat mengirim pesan singkat, kapan ibu Menteri berkunjung Bitung, ” Saya tidak mau datang Bitung, selama Bitung belum NKRI,” demikian balasan Susi. Hati saya seperti tersayat sembilu membaca pesan singkat Sang Menteri, sakit hati tentu. Meskipun kami dan sebagian besar masyarakat Kota Bitung, tidak pernah ikut serta menjual ikan secara illegal ke negerinya Duterte.

Pasokan ikan dari Pelabuhan Perikanan Samudera, Aertembaga, Kota Bitung, terus anjlok semenjak Menteri KKP, Susi Pujiastuti mengeluarkan berbagai kebijakan moratorium. (Sumber PPS Aertembaga Kota Bitung)

Dari data Pemerintah Kota Bitung, sedikitnya 5000 ABK kapal ikan eks-asing, menganggur begitu Peraturan Menteri KKP diberlakukan pada Nopember 2014. Sebanyak 85 unit kapal ikan eks asing, kini terpaksa hanya berlabuh di Selat Lembeh, karena tidak dapat beroperasi lagi. Seluruh industri perikanan di ibukota perikanan (Kota Bitung), kelimpungan menghadapi ‘krisis’ bahan baku. Saya sebut ibukota perikanan karena di Kota Bitung bergerak 59 Unit Pengolahan Ikan, yang tujuh di antaranya merupakan perusahaan pengalengan ikan. Artinya dari 14 pabrik pengalengan ikan di Indonesia 50 % berada di Kota Bitung.

Kebijakan Susi menguntungkan Nelayan kecil, karena ikan-ikan kini sudah lebih dekat ke pantai, sehingga nelayan tak perlu jauh mencari ikan. Namun sayangnya ikan hasil tangkapan nelayan kecil sebagian besar hanya untuk pasar lokal, seperti jenis ikan Deho (Tongkol) dan Malalugis. Industri Pengolahan Ikan untuk keperluan eksport, membutuhkan Ikan-ikan jenis Cakalang dan Baby Tuna, biasa di laut dalam.

Pemerintah Kota Bitung sering menyebutkan sebanyak 10.000 orang kini menganggur, terkena dampak pabrik ikan kurang pasokan. Sehingga total PHK sekitar 15.000 orang perkerja Awak kapal maupun industri pengolahan. Pertumbuhan ekonomi di daerah ini akhirnya merosot dari sebelumnya di atas 7 % menjadi 3 %. Berbagai upaya dilakukan pengusaha dan pemerintah Kota Bitung, untuk melakukan loby ke Menteri Susi agar diberikan special treatment bagi industri perikanan di kota tersebut. Namun Menteri Susi tak beringsut dari

Pemerintahan baru Max Lomban-Maurits Mantiri kelabakan, mencari cara untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi maupun menyerap tenaga kerja, yakni dengan ‘mencoba’ serius di sektor pariwisata. Namun sektor pariwisata membutuhkan investasi besar dan multi-year, sementara pemerintahan sebelumnya tak pernah melirik sektor wisata.

Multiplier efek dari sektor pariwisata, tidak begitu dirasakan masyarakat, karena setiap pelancong (manca negara) tidak ada yang menggunakan perahu taksi warga. Mereka pergi ke spot-spot diving atau lokasi wisata dengan service boat milik cottage, demikian juga perjalanan darat. Termasuk kuliner, karena pemilik cottage tidak pernah memberdayakan masyarakat di sekitarnya.

Negara (Jokowi, Susi, Olly, Max) Harus Hadir

Atas semua bencana bagi industri perikanan di Indonesia, saya tidak menyalahkan Susi, namun saya menuntut orang yang menunjuk Susi Pujiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, iya…Presiden Joko Widodo alias Jokowi. Karena Jokowi yang memerintahkan percepatan pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung. Fokus utama KEK Bitung adalah kegiatan industri pengolahan ikan. Sementara Industri Prikanan yang dulunya menjadi primadona, kini di titik nadir.

Hampir tiga tahun duduk sebagai Menteri KKP, Susi Pujiastuti masih berkutat di bidang law enforcement, dengan peledakan kapal ikan sebagai ‘pertunjukan utama’. Kegiatan tersebut cukup menjaga popularitas Susi, karena dilakukan rutin  setiap 4 bulan. Jeritan industri perikanan karena kesulitan mendapatkan bahan baku terabaikan. Kebutuhan bahan baku industri pengalengan ikan di Kota Bitung, sebanyak 1.400 Ton per hari, kini pasokan yang ada hanya sekitar 100 Ton per hari.

Rasionalisasi (baca: PHK) tak terhindarkan, tak sedikit usaha pengolahan ikan gulung tikar. Mana Nawa-Cita yang begitu diagung-agungkan (saat Pilpres tentunya), bentuk hadirnya negara saat dibutuhkan rakyat. Secara konkrit pemerintah seharusnya mampu melaksanakan fungsi distributif, maksudnya surplus pasokan di daerah lain dapat  dikirimkan ke kawasan yang kekurangan pasokan. Sesuai dengan salah satu program kemaritiman, Tol Laut.

Jika disebutkan terjadi peningkatan hasil tangkapan ikan sekarang ini, sudah waktunya Pemerintah menunjukkan kepada rakyat kebenarannya. Yakni dengan menjalankan fungsi distributif, entah dengan menggunakan Kekuatan Pemerintahan, BUMN, bahkan BUMD. Surplus Ikan di Sorong, Ambon, Banyuwangi, atau bahkan Bagansiapiapi dapat segera dikirimkan ke Bitung, sehingga ekonomi dapat menggeliat lagi. Dan terutama ribuan buruh pabrik pengolahan ikan dapat dipekerjakan lagi. Apabila hal tersebut tidak segera dilakukan maka investasi pembangunan Tol, Rel Kereta Api, pengoperasian Kapal Ro-Ro General Santos-Bitung, serta KEK Bitung akan Mubazir.

*) Penulis: Andry Anthoni

  • Jurnalist Metro TV
  • Co-Founder Indonesiablitz.com
Advertisements

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here