Barisan Waria & Gay Bikin Heboh

0
2048
Walikota Bitung (tengah) didampingi istrinya berpose bersama para Waria dan Gay yang ikut lomba baris-berbaris dalam rangkaian HUT RI, hari Jumat. (foto.Jeffry)

Indonesia Blitz, KOTA BITUNG –  Barisan para Waria dan Gay membuat heboh acara gerak jalan menyambut HUT 72 Republik RI di kota Bitung, Jumat siang (11/8-2017).

Ribuan warga kota Bitung yang menonton di pinggir jalan,  berteriak-teriak gembira sambil tertawa terpingkal-pingkal melihat barisan wanita setengah pria ini. Apalagi mereka berlenggak-lenggok ibarat wanita.

Barisan para waria ini mengalahkan penampilan 200 peserta lainnya. Mereka tampil rapih,  namun seksi nan lucu. Tidak hanya itu, jika panitia menyiapkan piala barisan terheboh dan terfavorit, barisan Ikatan Waria dan Gay Kota Bitung ini pasti menyabetnya.

Saking hebohnya, puluhan aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Pemkot Bitung didukung sejumlah petugas Polisi Satlantas Polres Bitung, terpaksa diturunkan secara khusus mengawal barisan para waria ini,  lengkap dengan mobil patroli sebagai fore-raider, karena para penonton sudah bergerombol ingin mendekati mereka.

Sebanyak 30 waria yang berpakaian wanita seksi dengan make-up cukup menor ini,  tanpa canggung berbaris menuju panggung kehormatan.

Walikota Bitung Maximiliian Lomban dan istrinya Nyonya Khouny Rawung, yang semula serius berdiri menerima penghormatan dari setiap barisan yang melewati panggung kehormatan, terlihat tak bisa menahan tawa tatkala barisan para waria ini tiba dan memberi hormat.

Tawa Walikota dan istrinya akhirnya pecah juga. Mereka ikut tertawa terpingkal-pingkal melihat penampilan para waria ini. Masyarakat penonton yang ikut berkerumun di depan panggung kehormatan, juga tak putus-putusnya tertawa sambil memberikan aplaus bagi para waria ini.

Lebih menghebohkan lagi,  ketika para waria ini membuat formasi barisan tarian ‘Cinta Yaki’ atau tarian singkat Cinta Macaca Nigra,  monyet pantat merah khas Kota Bitung yang dilindungi.

Mereka tahu, istri walikota Bitung adalah Duta Yaki,  yang didaulat sebagai tokoh pelindung Yaki (monyet),  satwa endemik khas Sulawesi yang kini hidup di hutan Cagar Alam Tangkoko dan Batu Angus, wilayah kota Bitung.

Para waria menggoyang-goyangkan pinggul,  sambil sedikit mengangkat pantat mereka yang dibalut rok mini warna merah, ibarat Yaki pantat merah. Spontan suasana menjadi semakin riuh. “Adoh abis, dorang ini memang lucu noh. Bagini kwa baru penonton terhibur (aduh luar biasa. Mereka memang lucu. Yang seperti ini membuat penonton terhibur)”, kata Julius Lahope (40 tahun), warga Malalayang kota Manado yang kebetulan datang ke Bitung.

Julius bersama ratusan penonton lain rela berdesak-desakan hanya untuk melihat dari dekat penampilan para waria ini. Arus lalulintas di ruas jalan protokol Sam Ratulangi Bitung pun sempat macet,  karena sejumlah sopir dan pengendara sepedamotor berhenti sejenak ikut menonton,  tatkala melihat barisan para waria ini lewat.

Selama dua hari lomba gerak jalan 17 Agustus-an yang digelar di Kota Bitung, hanya barisan para waria inilah yang membuat kehebohan dan mendapat perhatian ribuan penonton.

Sejak persiapan dari garis start di pusat kota Bitung hingga finish ke depan kantor walikota Bitung sepanjang kurang lebih 5 kilometer, barisan para waria ini mendapat perhatian luar biasa.

Saking merasa lucu dengan penampilan mereka, ada penonton yang sedikit nakal menggoda para waria ini. Ada pula yang coba mencolek badan mereka,  bahkan ada seorang penonton pria menarik rok seorang waria,  yang sedang berbaris saat melewati ruas jalan Parigi Dolong (Pardo). “Tadi doh kita pe rok ada yang tarek riki talucur (tadi rok saya ada yang tarik hingga sempat melorot)“, kata waria bernama Oca kepada Indonesia Blitz, saat barisan mereka rehat sejenak di tengah jalan.

Meski begitu para waria ini tidak marah. Mereka merasa maklum dengan antusias para penonton. Intinya mereka tampil untuk ikut berpartisipasi dalam memeriahkan pesta HUT Indonesia “Kami latihan hanya 2 hari saja. Teman-teman senang sekali ikut acara ini. Kami ikut memeriahkan acara gerak jalan ini,  memang untuk menghibur masyarakat kota Bitung”,Kata Sarah, pemimpin Ikatan Waria & Gay Kota Bitung.

Sarah berterimakasih atas sambutan positif masyarakat dan pemerintah kota Bitung terhadap keberadaan mereka. Karena apapun sifat dan status para waria ini, mereka adalah warga kota Bitung juga. Terlebih selama ini, para waria kota Bitung termasuk warga yang taat aturan dan tetap bekerja,  dalam mengisi pembangunan. “Syukur alhamdulilah di kota Bitung masyarakat sudah mulai membuka tangan, membaur bersama kita-kita. Jadi sudah tidak ada diskriminasi”, tutur Sarah.

Melihat penampilan para waria ini,  pasti akan membuat orang melongo dan tersenyum. Selain mereka kini sudah layaknya wanita, tubuh berberapa di antaranya,  juga masih terlihat kekar, karena memang awalnya terlahir sebagai seorang pria. Lebih dari 10 waria yang ikut lomba baris-berbaris saat ini, juga mempunyai sejumlah tato permanen seperti di tangan, leher dan bagian tubuh lainnya.

Yovan, rekan Sarah memaparkan Ikatan Waria Bitung sudah punya program untuk secara rutin mengisi acara HUT RI setiap tahunnya. “Jadi ini sudah menjadi agenda tahunan Ikatan Waria kota Bitung. Dan setiap tahun kita disponsori oleh Pemerintah Kota Bitung”, kata Yovan, waria yang nada suaranya memang sudah mirip wanita asli.

Sikap positif masyarakat terhadap para waria ini jelas mulai terlihat usai mereka baru selesai baris-berbaris. Banyak warga yang antri meminta para waria ini berfoto bersama. Para waria pun melayani mereka satu persatu. Ibarat artis pop, terlihat para waria dikerumuni warga yang minta berselfie ria. (Jeffry)

Advertisements

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here