DVI Polda Ambil DNA Keluarga 12 ABK KM. Baku Sayang

0
578
Seorang anggota keluarga ABK JM.Baku sayang 03 yang masih hilang, dimintai keterangan oleh tim DVI Dokkes Polda di posko Antemortem, di ruangan PT.Sari Malalugis, Madidir Weru kota Bitung. (foto.Andry)

Indonesia Blitz, KOTA BITUNG –  Tim Disaster Victim Identification (DVI) atau identifikasi korban bencana dari Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Utara, mengambil sampel Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) atau Asam deoksiribonukleat,  molekul pembawa petunjuk genetik,  dari keluarga terdekat 12 Anak Buah Kapal (ABK) KM. Baku Sayang 03,  yang masih belum ditemukan.

Pengambilan unsur DNA ini dilakukan di posko antemortem yang didirikan sementara di salahsatu ruangan pertemuan PT.Sari Malalugis, di Madidir Weru, Kota Bitung, Selasa siang (22/-8-2017).

Menurut  Kasubid Dokpol Bid Dokkes Polda Sulut, AKBP Tomix Katiandagho, tujuan mengambil sampel DNA dari para keluarga ABK yang masih hilang, adalah untuk mengantisipasi situasi terburuk, apabila  mereka akhirnya ditemukan dalam keadaan sudah meninggal dunia dan sulit dikenali.

Dengan adanya sampel DNA dari keluarga ini, proses identifikasi atau untuk mengenali setiap jenazah akan akurat dan menjadi lebih cepat. “Tim DVI datang untuk menggali segala informasi yang boleh didapat. Dan apabila hal yang terjelek, korban ditemukan meninggal dunia dan tidak dikenali,  sehingga kita cocokkan dengan data antemortem”, jelas AKBP Tomix Katiandagho kepada Indonesia Blitz.

Bagian yang akan diambil sampel DNA untuk dicocokkan adalah lapisan pipi dalam mulut dari masing-masing keluarga ABK.  Sampel ini akan disimpan secara khusus, dan baru akan digunakan, jika memang 12 ABK ditemukan tidak dalam keadaan selamat.

Selain sampel DNA, tim DVI juga mencatat data-data fisik khas 12 ABK, mulai dari pakaian atau aksesoris yang terakhir kali dikenakan, barang bawaan, tanda lahir, tato, bekas luka, cacat tubuh, foto diri, berat dan tinggi badan.

DVI Polda Sulut memberi apresiasi kepada pihak perusahaan PT.Sari Malalugis, yang memberi respon positif membantu para keluarga ABK korban kapal tenggelam. “Kami berterimakasih kepada pihak perusahaan yang cepat memberi respon untuk membantu proses pengambilan data antemortem. Mereka sangat memperhatikan, bahkan menyiapkan ruangan, tempat duduk serta memberi makan-minum semua anggota keluarga ABK yang datang. Ini mempermudah tim DVI bekerja”, kata Tomix Katiandagho.

Sebanyak 12 ABK KM. Baku Sayang 03 milik PT. Sari Malalugis, sudah tiga hari masih dinyatakan hilang sejak kapal mereka tenggelam di perairan kabupaten kepulauan Sitaro, Sabtu petang (19/8-2017).

Tim Search and Rescue (SAR) atau regu pencari dan penolong Manado didukung kapal SAR KN Bima Sena dan sejumlah kapal ikan milik PT Sari Cakalang (grup Sari Malalugis) hingga Selasa sore,  belum juga menemukan tanda-tanda keberadaan 12 ABK tersebut.

Menurut sejumlah ABK yang selamat dan kini berada di RS Umum Sawang, Siau,  12 rekan mereka tersebut sempat terlihat bergantungan di sekoci atau rakit penyelamat, ketika mereka bersama-sama melompat ke dalam air sesaat kapal mulai tenggelam.

Karena situasi malam hari, diduga kuat mereka hanyut terpisah terbawa arus dan ombak. Apalagi gelombang besar masih terjadi di perairan Sitaro, lokasi di mana kapal penangkap ikan cakalang KM. Baku Sayang 03 tenggelam.

Keluarga 12 ABK tersebut tampak sedih ketika mereka duduk antri menunggu giliran di pos ante mortem untuk diambil sampel DNA. Ada yang terlihat menangis usai mereka berdoa bersama. Mereka berharap para ABK yang masih hilang dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat.

Ada kisah menarik sebelum Windi Sadonda (21 tahun), salahsatu ABK,   naik kapal KM. Baku Sayang 03 yang akhirnya dinyatakan hilang. Lelaki bujang ini, sempat sibuk meminta ibunya, Yulce Maensu,  untuk membagikan ikan kepada seorang pendeta mereka. “Dia sebenarnya so datang ka perusahaan somo nae kapal, mar lantaran dia blum kase ikang pa torang pe pendeta, di bale ulang ley ka rumah (dia sebenarnya sudah ke perusahaan untuk naik ke kapal. Tapi karena belum memberikan ikan ke pendeta, dia pulang lagi ke rumah) ”, tutur ibunya, .

Anak tertua ini meminta ibunya untuk mengambil ikan yang disimpan dan membagikannya kepada pendeta. “Ma’ tu ikang dang bahagi jo. Mo kase pa pendeta dang (Bu, ikan yang disimpan dibagi saja. Untuk diberikan ke pendeta)”, ujarnya singkat seperti ditirukan ibunya.

Namun ternyata, itulah permintaan terakhir sebelum Windi bersama 11 ABK lainnya dinyatakan hilang,  akibat kapal ikan yang ia naik dihantam ombak dan tenggelam.

Ibunya bersama tiga orang adiknya, juga rela menunggu adanya kabar baik dari Windi. “Hari Sabtu dia sempat menulis status di media sosial untuk adiknya. Dan sejak itu tidak ada kabar lagi. Padahal biasanya ia sering menelepon jika kapalnya sedang singgah di mana saja”, ungkap ibunya lirih. (jeffry/andry)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × 3 =