5 Hari 8 ABK Masih Hilang

0
706
Max Lukas, salahsatu ABK KM. Baku Sayang 03 yang tenggelam di Sitaro, akhirnya ditemukan sudah terapung jauh di peraian Talaud oleh kapal Polisi Perairan, hari Rabu. (foto. Ditpolair)

Indonesia Blitz, KOTA BITUNG – Tim SAR Gabungan sampai hari ke-5, Kamis (24/-8-2017) belum menemukan sisa 8 Anak Buah Kapal (ABK) kapal ikan KM.Baku Sayang 03 yang tenggelam di perairan kabupaten Sitaro, Sabtu tengah malam lalu.

Menurut SAR Manado, pencarian hari ke-5 lebih mengarah ke perairan Talaud, karena diperkirakan para korban mulai hanyut terbawa arus ke wilayah tersebut, setelah beberapa hari terapung-apung dari perairan kabupaten Sitaro.

Sehari sebelumnya 4 ABK lainnya ditemukan di perairan Talaud. Mereka adalah Hian Tamaka, Kapten Kapal Antonius Kabuhung, Kalvin R Rahasia dan Max Lukas.

Total sudah 15 ABK KM Baku Sayang 03 yang ditemukan selamat. Sebanyak 11 orang sudah dipulangkan ke rumah masing-masing di Kota Bitung, setelah 3 hari dirawat di Rumahsakit Umum Daerah Kabupaten kepulauan Sitaro. Sedangkan 8 ABK

Kamis siang, 3 ABK masing-masing kapten kapal Antonius Kabuhung, Kalvin R Rahasia dan Max Lukas,  yang dirawat di puskesmas Damau di pulau Kabaruan, sudah dievakuasi ke Melonguane untuk mendapat perawatan lanjutan di RSUD Talaud.

Mereka dievakuasi menggunakan Rescue Boat Basarnas Manado, KN Bima Sena. Pemindahan ini dilakukan karena kondisi Antonius kurang baik,  karena mengalami luka bakar tersengat matahari hampir di seluruh tubuhnya. Sedangkan Kalvin lebih baik. Begitupun dengan Maxi yang terlihat lebih stabil. Satu korban lainnya, Hian Tamaka, sudah lebih dulu dirawat di rumaksakit Mala ini,  setelah dievakuasi KRI Singa 651 hari Rabu lalu.

Nahkoda Antonius (60 tahun) bersama Kalvin Rahasia (16 tahun) ditemukan Rabu siang (23/8-2017) sekitar pukul 14.35 wita oleh nelayan Damau di sekitar perairan Napombaru dan langsung dibawa ke puskesmas Damau. Kemudian sore harinya,  Maxi Lukas (42 tahun) juga ditemukan oleh kapal Polisi Perairan Talaud dan dibawa juga ke Damau.

Operasi pencarian terhadap korban kapal tenggelam ini masih melibatkan armada besar,  yakni  2 Kapal Perang KRI Singa 651 dan KRI Badau 841, Kapal Angkatan Laut (KAL) Tedung Selar dan KAL Pulau Sangihe,  Kapal Polisi XV 202, kapal Basarnas KN Bimasena,  Rigid Inflatable Boat (RIB) Pos SAR Tahuna, Kapal Pangkalan PLP Bitung, Kapal PSDKP, Kapal Syahbandar Siau dan KM Sari Cakalang.

Pindah dari Tifore

Baku Sayang 03 dengan 23 ABK milik PT. Sari Malalugis (grup Sari Cakalang) di Madidir Weru Kota Bitung ini, tenggelam di perairan Tagulandang, kabupaten Sitaro (Siau Tagulandang Biaro) hari Sabtu tengah malam (19/-8-2017) atau sekitar pukul 01.00 Wita hari Minggu.

Menurut salahsatu ABK, Meyer Kuemba, kapal kayu ini semula hendak mencari ikan cakalang ke arah timur tepatnya di perairan Tifure, Ternate propinsi Maluku Utara. Namun karena mulai bergelombang besar, sehingga nahkoda memerintahkan mereka berputar ke arah barat menuju perairan Sitaro.

Malam itu, mereka kemudian menyusuri perairan Talise kecamatan Likupang Barat, Minahasa Utara untuk menuju laut Sitaro. Sekitar pukul 24.00 Wita, cuaca semakin berangin kencang dan berombak. Kapal terus melaju ke pulau Pasige. Namun sekitar pukul 01.00 dinihari Minggu saat berada di perairan Tagulandang,  ombak dan angin menghantam keras,  sehingga menyebabkan papan di badan kapal di bagian haluan copot.

Saat itulah air mulai masuk. Usaha para ABK menguras air keluar tidak berhasil, apalagi mesin kapal mati. Kapal akhirnya mulai tenggelam. “Papan di bagian haluan copot, sehingga kapal mulai tenggelam bagian depannya”, kata Meyer Kuemba kepada Indonesia Blitz, Rabu malam lalu.

Para ABK sebenarnya semua sudah naik rakit penyelamat atau Inflatable Liferaft (ILR) tetapi kemungkinan ada yang coba berenang cari daratan sehingga terpisah. “Ada kan rakit laeng to. Sebagian di rakit situ. Jadi torang 16 orang di satu rakit yang paling ke belakang”, tuturnya.

Mualim I, Herry Sikome,  mengungkapkan peralatan keselamatan di atas kapal mereka sebenarnya lengkap. Hanya saja, karena sudah panik sehingga ada rakit penolong yang tidak berkembang baik saat di air. Bahkan banyak ABK tidak sempat memakai jaket penyelamat. “Semua di atas rakit, ndak ada yang ndak dapa buih (buoy) penolong. Semua peralatan keselamatan ada di kapal. Cuma karena panik, hanya sebagian dapat lifejacket”,  katanya.

Salahsatu yang berenang mencari daratan adalah Meidy Bungkunusa. Ia memakai life jacket dan naik styrofoam penutup palka ikan sebagai rakit. Selama satu hari ia mendayung tapi belum sampai ke daratan. Meidy baru ditemukan nelayan hari Senin pagi saat terapung di sekitar perairan Nameng, Siau Barat.

Informasi dari Meidy kemudian menyebar ke para nelayan dan aparat desa setempat.  Menjelang Senin siang,  kapal tanker MT QOWWIY yang sedang melintas menuju Miangas menemukan 10 ABK lainnya yang terapung dalam liferaft di sekitar Tagulandang. Sebenarnya mereka akan dibawa ke pelabuhan Pehe, namun syahbandar meminta dievakuasi ke pelabuhan Siau agar dekat dengan rumahsakit.

Kepala Kantor SAR Manado, Budi Cahyadi mengatakan pencarian terhadap sisa ABK yang masih hikang akan terus dilakukan hingga 7 hari ke depan. (Jeffry)

8 ABK YANG BELUM DITEMUKAN:

  1. Rifai M Mangangkung
  2. Harfi Takalalumang
  3. Jeremia Kasib
  4. Marlon Kagiling
  5. Windi Sadonda
  6. Ramly Tahulending.
  7. Thomas Adilang
  8. Roman Koal
Advertisements

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here