4 Korban Kapal Tenggelam Tiba di Bitung

0
1185
Antonius Kabuhung, salahseorang korban kapal tenggelam yang mengalami luka serius, terpaksa hanya diletakkan melintang di antara bagasi dan kursi belakang sebuah minibus karena tidak adanya ambulance ketika tiba di pelabuhan Navigasi,Naemundung kota Bitung Jumat malam . (foto.jeffry)

Indonesia Blitz, Kota Bitung – Sebanyak 4 Anak Buah Kapal (ABK) Kapal Motor (KM) Baku Sayang 03 yang tenggelam di perairan Tagulandang Kabupaten Sitaro, tiba di Kota Bitung, sekitar pukul 21.15 Jumat malam (25/8-2017).

Keempat ABK ini adalah nahkoda Antonius Kabuhung (60 tahun), Kalvin R Rahasia (16 tahun), Hian Tamaka (41 tahun) dan Maxilius Lukas (42 tahun).

Mereka diangkut kapal Basarnas KN. Bima Sena dari Melonguane, kabupaten Talaud, setelah mendapat perawatan selama 2 hari di Puskesmas Damau pulau Kabaruan dan RSUD Mala Talaud.

Jarak dari pelabuhan Melonguane ke pelabuhan navigasi kota Bitung sangat jauh,  sehingga memakan waktu sekitar 10 jam perjalanan, apalagi kondisi laut masih bergelombang cukup tinggi.

Kepala Kantor SAR Manado, Budi Cahyadi, mengatakan pemulangan para ABK ini dilakukan karena kondisi mereka sudah membaik. Selain itu, agar mereka dapat segera bertemu kembali dengan keluarganya. “Kami membawa mereka pulang karena permintaan dari yang bersangkutan dan keluarga. Biar lebih intensif perawatannya”, kata Budi kepada Indonesia Blitz, tadi malam (25/8-2017)

Ketika Kapal SAR Bima Sena sandar di pelabuhan Navigasi, Naemundung, yang lebih dulu turun ke dermaga adalah Hian Tamaka diikuti 2 rekannya, Kalvin R Rahasia dan Maxilius Lukas. Mereka bertiga terlihat sudah agak sehat meski sempat 4 hari terapung di laut.

Sementara nahkoda kapal, Antonius Kabuhung,  harus ditandu keluar dari kapal karena kondisinya kurang baik. Sekujur tubuhnya penuh luka bakar tersengat matahari, serta sempat mengalami dehidrasi. “Saya membisik kepadanya agar tenang saja, tidak usah banyak berpikir”, kata Viktor Tatanude, Ketua Komisi A DPRD Bitung, yang ikut menjemput para korban. Nahkoda Antonius ini memang bersahabat dengan Viktor dan keluarganya.

Yang memiriskan, Antonius yang sudah dibungkus selimut, terpaksa hanya diletakkan melintang di bagasi kendaraan pribadi jenis Terrios, karena tidak ada ambulans yang datang. Sementara 3 korban lainnya naik mobil Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kota Bitung.

Tatanude menyayangkan tidak ada ambulans samasekali yang disediakan pihak perusahaan. Padahal para korban ketika dievakuasi ke Rumahsakit Mala, Melonguane  Talaud, Pemkab setempat menyediakan 4 ambulans. “Bukan main dang nyanda ada ambulans di sini”, kata Viktor agak menggerutu.

Keempat ABK ini langsung dibawa ke Rumahsakit TNI-AL dr.Wahyu Slamet untuk mendapat pemeriksaan dan perawatan lanjutan. Namun kemungkinan yang akan opname hanya kapten kapal Antonius, karena kondisinya cukup parah.

Dia akan menginap bersama beberapa rekannya yang telah dievakuasi dua hari sebelumnya dari RSUD Sawang Siau,  karena digigit cumi raksasa dan hiu. “Pak Herry Sikome tadi siang sudah menjalani operasi penempelan kaki kanannya yang lobang cukup besar akibat digigit cumi raksasa. Dokter ambil daging dari pahanya untuk menutupi bekas gigitan tersebut”, kata pdt. Decky Kaitang.

4 ABK yang baru tiba ini,  bagian dari 23 ABK KM.Baku Sayang 03 milik PT.Sari Malalugis di Madidir Weru, Kota Bitung,  yang hilang selama 4 hari setelah kapal mereka tenggelam Sabtu tengah malam (19/8-2017) di perairan Tagulandang.

Mereka hanyut sejauh 100 mil atau sekitar 185 kilometer dari lokasi musibah, akibat terbawa arus dan ombak.

11 ABK lainnya sudah lebih dulu ditemukan terapung oleh nelayan dan kapal tanker MT. Qowwiy di perairan Sitaro sekitar 15 mil dari pulau Makalehi, hari Senin atau 1 hari setelah kapal mereka tenggelam. 11 ABK ini sudah dipulangkan ke keluarga masing-masing di kota Bitung, hari Rabu malam, setelah mendapat perawatan di RSUD Siau.

Sementara 8 ABK lainnya hingga kini masih hilang. Pencarian terhadap mereka sudah memasuki hari ke-6 dengan melibatkan sejumlah kapal perang (KRI) dan Kapal Angkatan Laut (KAL), serta didukung Kapal SAR termasuk Kapal Polisi Perairan dari Ditpolair Polda Sulut.

Menurut Kepala SAR Manado, dalam pencarian hari Jumat, tim SAR Gabungan belum menemukan 8 ABK tersebut. “Sementara hasilnya nihil, tidak ditemukan tambahan korban. Namun kita berharap di hari selanjutnya dapat menemukan para korban tersebut”, kata Budi.

Para keluarga yang mengira 8 korban lain sudah ditemukan, terlihat ikut hadir di rumahsakit Wahyu Slamet Bitung. Mereka memang sempat kecewa karena 8 ABK itu,  yang juga anggota keluarga mereka ternyata masih hilang. “Kami meminta pihak perusahaan harus proaktif mencari keluarga kami yang masih hilang. Temukan mereka hidup atau mati”,kata seorang anggota keluarga dengan nada tinggi. (Jeffry)

Advertisements

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here