Bangunan AMI Bitung & Patra Niaga Dirobohkan

0
3110
Para pekerja merobohkan pagar AMI Bitung di Manembo-nembo, kota Bitung, dalam eksekusi lahan milik ahli waris Dirk Beni Lumenta, Selasa (foto.jeffry)

Indonesia Blitz, Kota Bitung – Pengadilan Negeri Bitung, Selasa siang (12/9-2017), mulai melakukan eksekusi dengan membongkar sejumlah bagian bangunan Akademi Maritim Indonesia (AMI) Bitung dan rumah serta pagar PT. Yoezadassah (Patra Niaga) di Manembo-nembo kecamatan Matuari, karena berdiri di atas tanah sengketa yang sudah dimenangkan penggugat dan ahli waris Dirk Beni Lumenta.

Eksekusi yang dikawal sekitar 250 aparat Kepolisian Resort (Polres) Kota Bitung dan dipantau langsung Kapolres AKBP. Philemon Ginting, SIK, MH ini, berjalan lancar tanpa hambatan.

Ini mungkin eksekusi paling aman di kota Bitung. Tidak ada warga atau pemilik bangunan yang melakukan unjukrasa atau protes. Padahal semula sempat beredar sas-sus sebanyak 47 rumah warga dan 5 bangunan rumah ibadah yang berdiri di bagian utara lokasi akan ikut dieksekusi, karena masuk dalam 12 hektar lahan yang dimenangkan penggugat.

Namun ahli waris Dirk Lumenta berserta 7 keluarga lainnya, dengan besar hati dan rela tidak akan mengusik lahan beserta bangunan tersebut.  “Setelah kita bernegosiasi dengan warga dan pihak pemerintah kota, akhirnya kita sepakat untuk memberi semacam dispensasi untuk gereja-gereja atau tempat ibadah di situ. Tidak dibongkar. Bukan hanya gereja, rumah warga juga tidak ada satu pun yang kita sentuh”, kata Dirk Beni Lumenta, pengacara dan juga ahli waris.

Pihak ahli waris sepakat hanya 6 hektar atau 60 ribu meter persegi dari 12 hektar lahan, yang akan dikosongkan. Sejumlah warga pemilik rumah di lahan tersebut mengaku mereka sudah membayar kepada pemilik lahan. “Kami memang punya rumah di lokasi tersebut, tapi kami kini sudah tenang karena sudah membayar tanahnya 15 juta rupiah”, kata seorang ibu yang mengaku menempati lahan seluas 15 x 10 meter persegi.

Sebelum eksekusi dimulai, jurusita Pengadilan Negeri (PN) Bitung, Rudi Pieter Sumlang, membacakan surat perintah eksekusi dari ketua PN Bitung, berdasarkan 4 hasil keputusan sidang yakni PN Bitung tahun 2008, Pengadilan Tinggi Manado tahun 2009, Mahkamah Agung tahun 2019 dan Peninjauan Kembali (PK) tahun 2013,  yang memenangkan penggugat dan ahli waris Dirk Beni Lumenta atas tergugat Cornelis Luntungan alias Cornelis Ngantung.

Karena keputusan sudah inkracht atau berkekuatan hukum tetap dan tidak ada upaya hukum biasa yang dapat ditempuh lagi, ahli waris Beni Lumenta meminta untuk dilakukan eksekusi.

Eksekusi dimulai dengan mencabut papan bertuliskan tanah milik Herman Luntungan di depan jalan masuk kompleks rumah dan 5 gereja, kemudian petugas eksekusi bersama para pekerja menuju lahan perusahan ekspedisi petikemas PT. Jayasakti di sebelah barat.

Pembongkaran paksa di lahan penumpukan petikemas ini tidak dilakukan, karena pihak  PT. Jayasakti menjamin segera mengosongkan hari itu juga. Pihak ahli waris setuju memberikan waktu sampai sore, apalagi melihat ada aktivitas alat berat forklift mulai mengangkut petikemas ke atas trailer.

Pembongkaran rumah tempat tinggal karyawan perusahan penimbunan BBM solar PT. Yoezadassah (Patra Niaga) terpaksa dilakukan, karena pemiliknya dianggap tidak kooperatif. Para pekerja ekseksusi lahan dalam hitungan menit langsung merobohkan pagar yang terbuat dari seng serta rumah semi permanen.

Para sopir tangki BBM Patra Niaga sempat kaget ketika datang petugas yang meminta agar lahan tempat mereka bekerja segera dikosongkan. Mereka akhirnya cepat-cepat memindahkan BBM dari bunker penyimpanan ke mobil tangki. Lebih dari 5 mobil tangki Patra Niaga berkapasitas 8000 hingga 20.000 liter terpaksa diungsikan keluar.

Eksekusi kemudian berlanjut dengan merobohkan pagar AMI Bitung. Pagar beton sepanjang sekitar 35 meter di bagian belakang, akhirnya roboh. Menurut ahli waris Beni Lumenta,  sekitar 15 bangunan milik AMI yang berdiri di lahan milik mereka juga akan dirobohkan. (Jeffry)

Advertisements

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here