7 Rusunawa Kota Bitung Asal Jadi

0
661
Rembesan air dari kamar mandi dan toilet terjadi di semua Rusunawa di Kota Bitung, Sulawesi Utara, akibat pembangunan dilakukan asal jadi oleh kontraktor dari Jakarta. (foto jeffry)

Indonesia Blitz, Kota Bitung  –  Sebanyak 672 ruangan di 7 twin block  Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) kota Bitung banyak kerusakan dan mengalami kebocoran rembesan air,  akibat dibangun asal jadi oleh kontraktor dari Kementrian Pekerjaan Umum.

Dengan adanya kasus ini, pemerintah Kota Bitung melalui Perusahaan Daerah  (PD) Bangun Bitung, otomatis akan mengalami kerugian karena mendapat beban untuk mengeluarkan biaya sekitar 3,696 Miliar rupiah memperbaiki seluruh ruangan tersebut.

Itupun hanya biaya untuk memperbaiki 1 kamar mandi dan toilet mencapai 5,5 juta rupiah. Belum termasuk memperbaiki plafon dan mengecat setiap dinding yang rusak terkena rembesan air. Padahal dalam klausul serah terima disebutkan Pemkot Bitung menerima bangunan yang sudah siap pakai.

“Ini jelas kesalahan kontraktor. Kami hanya pengelola dan menerima hibah dari Kementrian. Kami baru membongkar ulang 14 kamar mandi dan toilet,  yang ternyata tegelnya hanya diletakkan di atas pasir bukan di atas plesteran semen. Kami curiga semua di 672 ruangan di 7 twinblock juga terjadi seperti itu, sehingga terjadi rembesan dan kebocoran air di setiap lantai”, kata Direktur Utama PD Bangun Bitung, Jantje J Sakul, SE kepada Indonesia Blitz, di kota Bitung,  Senin sore (25/9-2017).

Sakul menyayangkan pihak kontraktor yang ditunjuk Kementrian Pekerjaan Umum untuk membangun Rusunawa di kota Bitung ini tidak bekerja profesional,  sehingga banyak kerusakan yang terjadi.

Untuk menanggulangi kerusakan Rusunawa ini, PD Bangun Bitung sudah meminta bantuan DPRD Kota Bitung dalam membuat proposal permintaan bantuan dana revitalisasi Rusunawa ke Kementrian Permukiman dan Prasarana di  Jakarta. “Rusunawa ini  banyak kerusakan. Kami juga sulit memasarkan kepada masyarakat  akibat kamarnya terdapat banyak rembesan air. Banyak penghuni yang mengeluh tidak nyaman. Kami tarik biaya sewa dari mereka tapi pelayanan kami dinilai tidak maksimal akibat banyak kebocoran dan rembesan air ”, ungkap Sakul.

Direktur Teknis dan Perencanaan PD Bangun Bitung, Robby Reky Asia, mengungkapkan pembangunan Rusunawa di Kota Bitung yang dilakukan kontraktor dari Jakarta,  diduga kuat tidak sesuai bestek dan banyak menyalahi aturan. “Kami menemukan banyak kerusakan seperti banyak retak celah antar dinding, profil untuk loteng tidak ada, saringan untuk bak cuci di dapur tidak dipasang. Bahkan ada dinding yang lobang cuma ditutup pakai sejenis lakban”, paparnya.

Menurut Reky, penyimpangan itu terungkap saat tim pengawas dari Kementrian melakukan pemeriksaan fisik bangunan Rusunawa di Wangurer beberapa waktu lalu. “Dalam list (daftar) pekerjaan disebutkan semua sudah dipasang dan dikerjakan dengan baik, tetapi ketika diperiksa satu-persatu oleh tim pengawas, banyak yang tidak ada dan dikerjakan sesuai bestek”, katanya.

Tidak hanya itu, ternyata salahsatu Rusunawa di Wangurer yang baru dibangun dan diserahkan ke Pemkot Bitung tahun 2016 lalu, konstruksi bangunannya miring. “Kami baru tahu bangunannya miring ketika kami memasang baliho untuk acara pertemuan lalu”, ujar Reky sambil geleng-geleng kepala.

Direktur teknis ini juga menduga ada pemalsuan dokumen persetujuan dari pengawas Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota Bitung,  sehingga proyek Rusanawa baru di Bitung dinilai sudah selesai dibangun sesuai rencana. “Pak Dudung Kabid di Dinas Kimpraswil Bitung mengaku ia tidak pernah menandatangani dokumen pengawasan pembangunan Rusunawa”, katanya.

Pemkot Bitung pertama menerima hibah Rusunawa dari pemerintah pusat untuk 1 twin block tipe 21 (diberi nama Goropa) di kelurahan Wangurer Timur kecamatan Madidir pada tahun 2006.

Kemudian diikuti penyerahan 2 twin block tipe 23 (Cakalang dan Tuna) di Tangkoko, kelurahan Manembo-nembo kecamatan Matuari tahun 2007 dan 2 twin block lagi (Malalugis dan Tenggiri) di lokasi Pasar Sagerat Weru, kecamatan Matuari tahun 2012.

Pada tahun 2014 Pemkot Bitung juga  mendapat 2 unit twin block Rusunawa baru tipe 24 (Bobara dan Kerapu) di Wangurer di lokasi bersebelahan dengan yang 1 twin block sebelumnya.

Masing-masing twin block Rusunawa di Kota Bitung berlantai 5 dan terdapat 98 ruangan (ruang tamu, kamar tidur, dapur,  kamar mandi dan toliet). Total ruangan dari seluruh 7 unit twin block berjumlah 686 ruangan.

Anggaran pembangunan 1 unit twin block Rusunawa sangat besar. Twin Block pertama sekitar 20 miliar rupiah. Sedangkan Rusunawa terakhir dibangun dengan biaya sebesar Rp. 30 miliar.

Pengadaan dan pembangunan Rusunawa di Kota Bitung dulu dilakukan Kementrian  Pekerjaan Umum dan sekarang oleh Kementrian Prasarana dan Permukiman. Kontraktor atau pelaksana juga berasal dari pusat. Sedangkan Pemkot Bitung hanya menyediakan lahan.

Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Bitung, Ruddy Tenok, kepada wartawan beberapa waktu lalu,  anggarannya dari pusat dan dikelola langsung oleh Kementerian PU. “Kami hanya menyediakan lahan dan pengawasan proses pengerjaannya,” kata Tenok, Jumat (6/6/2014).

Pengelolaan Rusunawa di kota Bitung baru ditangani PD Bangun Bitung yang resmi dibentuk sesuai Peraturan Daerah No.3 tahun 2010. (Jeffry)

Advertisements

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here