Truk Bermuatan Lebih Dilarang Naik Kapal Ferry

0
709
Sejumlah truk angkutan barang antri di pelabuhan penyeberangan (ferry) kota Bitung, Jumat sore (27 Okt 17). ASDP Bitung melarang truk bermuatan melebihi aturan naik ke kapal ferry. (foto.Jeffry)

INDONESIA BLITZ, Kota Bitung – Pihak Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry cabang Kota Bitung,  melarang truk bermuatan melebihi kapasitas dan dimensi dinaikkan ke atas kapal ferry. Ini dilakukan karena selain angkutan berlebihan melanggar aturan muatan kapal, juga berdampak pada kwantitas atau jumlah kendaraan yang dibawa kapal akan berkurang.

“Memang sudah diatur oleh Keputusan Menteri (Perhubungan) kendaraan tidak boleh melebihi kapasitas. Contohnya jika ada truk membawa muatan 8 ton,  maka untuk 10 truk saja kapal kita pasti sudah melebihi dari batas muat. Sehingga dari syahbandar yang bagian kontrol muatan akan menyuruh bongkar. Ini akan menjadi kendala kita di sini”, kata Supervisor ASDP Kota Bitung, Dance Maleke kepada Indonesia Blitz, Jumat (27-10-2017).

Dalam Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 103 tahun 2017, memang disebutkan tentang pengaturan dan pengendalian kendaraan yang menggunakan jasa angkutan penyeberangan.

ASDP yang bertindak sebagai operator,  berhak melarang setiap kendaraan menggunakan kapal angkutan penyeberangan,  jika melanggar dimensi (tinggi) dan berat yang disyaratkan. “Tinggi muatan kan tidak boleh melebihi batas kas (ladbak). Jadi kalau sudah melebih batas kas,  itu kan sudah melanggar aturan”, jelasnya.

Menurut Maleke, kadang ada pengusaha ekspedisi yang ingin truknya membawa barang sebanyak mungkin, padahal kendaraan bermuatan berlebihan tidak sembarang naik ke kapal penyeberangan. “Sekarangkan,  misalkan pengusaha  ekspedisi maunya dia kan muat seenaknya dia, padahal sudah jelas diatur dalam peraturan menteri”, katanya.

Kementrian Perhubungan mengakui truk-truk yang bobotnya melebihi batas ketentuan, merugikan ASDP. Selain membuat gerak kapal menjadi lambat dan akhirnya membutuhkan bahan bakar minyak lebih banyak, juga membahayakan kondisi kapal bila kelebihan muatan.

Terkait adanya kemungkinan oknum aparat ASDP yang bermain mata dengan pengusaha ekspedisi untuk meloloskan kendaraan bermuatannya naik lebih dulu ke atas kapal, Maleke mengatakan itu mungkin hanya persaingan antar pengusaha ekspedisi saja.

Alasannya, hingga kini pihaknya tetap memberlakukan aturan yang sama pada semua pengguna kapal penyeberangan. “Di dalam persaingan bisnis biasanya ada begitu, cuma terus terang kalau kami di sini sebagai pengelola kapal feri, kami istilahnya tidak memilah-milah ini yang diprioritaskan, ini yang tidak diprioritaskan. Kita sama pukul rata semua. Kita layani semua. Kita kan di sini antri fisik, tidak system booking”, paparnya.

Ia juga menekankan, kendaraan yang masuk pertama ke pelabuhan akan lebih dulu naik ke kapal. Yang terakhir masuk akan menjadi paling belakang naik ke atas kapal. “Jadi harus antri. Ndak ada yang nyalip-nyalip (mendahului)”, tegasnya.

Selain adanya aturan pembatasan dimensi dan berat kendaraan, ASDP Bitung juga melarang angkutan barang berbahaya. Karena kapal penyeberangan yang beroperasi saat ini juga mengangkut penumpang. “Ada kan kategori barang-barang berbahaya yang ndak bisa diangkut kapal ferry,  seperti contohnya barang yang mudah meledak, barang yang mudah terbakar. Itu sama sekali kita ndak tolerir”, katanya.

Saat ini, ASDP Bitung menangani 4 kapal ferry antar pulau untuk mengangkut penumpang dan kendaraan. Untuk rute Bitung-Ternate PP dioperasikan 2 kapal yakni KMP Forklin VIII dan KMP Gorango. Sedangkan Bitung-Melonguane PP dilayani KMP Porodisa, dan Bitung-Tobelo dengan  KMP Bawal. Selain itu ada kapal yang dikelola pihak BUMD yakni KMP Lokong Banua untuk rute Siau-Tagulandang-Biaro (Sitaro) dan KMP Tude untuk rute Bitung (daratan) ke pulau Lembeh. (Jeffry)

Advertisements

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here