Alur Masuk Kapal Ferry Bitung Kini Berbahaya

0
1458
Sebuah alat berat dan timbunan batu reklamasi dermaga PT.Pelindo kini berada sangat dekat dengan dermaga kapal penyeberangan Ferry di kota Bitung. Timbunan material reklamasi ini mulai membahayakan lalulintas kapal Ferry (foto.Jeffry)

INDONESIA BLITZ, Kota Bitung – Alur masuk dan keluar kapal Ferry di pelabuhan PT. Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) kota Bitung, kini menjadi berbahaya dan rawan kecelakaan karena proyek reklamasi dermaga PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV sudah mengokupasi cukup besar area olah gerak kapal penyeberangan.

Menurut supervisor PT. ASDP cabang Bitung, Dance Maleke, kepada wartawan, akhir pekan lalu (27/10-2017), saat ini proyek reklamasi demaga petikemas Bitung mulai membuat lalulintas kapal penyeberangan menjadi berbahaya.  “Ketika kapal-kapal ferry bermanuver dan tiba-tiba kandas atau menabrak timbunan batu (reklamasi), apa ndak jadi perkara?”, kata Maleke.

Pihak ASDP menilai PT. Pelindo IV seakan sudah berbohong, karena pada waktu pertemuan sebelumnya mereka berjanji reklamasi tidak akan mengganggu alur kapal ferry,  sebab jarak timbunan sekitar 90-100 meter dari batas dermaga pelabuhan penyeberangan, namun kenyataannya saat ini jarak timbunan batu reklamasi justru sudah sangat dekat hanya sekitar 20 meter saja dari demaga. “Janji dari pihak Pelindo, mereka akan memberikan luas kurang lebih 90 meter lebih atau 100 meter dari dermaga kita ke dorang pe timbunan (reklamasi). Ternyata setelah kita ukur, kurang lebih tinggal 20 meter. Otomatis untuk olah gerak kapal-kapal kita jadi terbatas. Jadi sangat berpengaruh sekali”, paparnya.

Dari pemantauan Indonesia Blitz di lapangan, jelas terlihat timbunan material batu reklamasi proyek pelabuhan petikemas Pelindo IV ini sudah terlalu dekat jaraknya dengan dermaga kapal ferry. Bahkan lalu lintas keluar masuk kapal semakin sulit dan berbahaya,  karena timbunan batu reklamasi sudah nyaris mengurung alur gerak kapal.

Sebelum ada proyek reklamasi ini, kapal-kapal ferry sangat leluasa bermanuver di areal pelabuhan penyeberangan. Kini semua kapal ferry harus bermanuver terlebih dahulu di depan Selat Lembeh, baru kemudian mundur perlahan-lahan memasuki dermaga. “Sekarang kapal ferry kalau misalnya mau sandar buritan atau haluan, dia (kapal) terpaksa sudah harus stel (manuver) dari luar jauh sana,  baru masuk. Jadi lebih lama pergerakan kapal untuk sandar. Dan repot, apalagi ada bouy (pelampung) mereka letakkan tepat di alur kapal”, jelas Dance.

Saat ini setidaknya ada 6 kapal ferry pengangkut kendaraan dan penumpang yang sering masuk keluar dari pelabuhan penyeberangan di kota Bitung. Rata-rata sehari ada dua trip kapal ferry antar pulau seperti dari Bitung ke Ternate 2 kapal yakni KMP Forklin VIII dan KMP Gorango. Sedangkan Bitung-Melonguane PP dilayani KMP Porodisa, dan Bitung-Tobelo dengan  KMP Bawal. Selain itu ada kapal KMP Lokong Banua untuk rute Bitung – Siau-Tagulandang-Biaro (Sitaro) dan KMP Tude untuk rute Bitung (daratan) ke pulau Lembeh.

Akibat semakin berbahayanya alur masuk dan keluar kapal-kapal ferry ini, pihak ASDP sudah melayangkan protes ke PT.Pelindo IV, namun tampaknya tidak digubris.  “Kami sempat mengingatkan. Bahkan dua pekan lalu ada direksi kita datang ke sini untuk berkoordinasi dengan Pelindo. Malah dapat undangan dari mereka untuk pecahkan masalah itu”, ungkapnya.

Pihak PT.Pelindo IV cabang Bitung terkesan menghindar ketika hendak dikonfirmasi wartawan mengenai masalah ini, Selasa siang (31/10-2017). General Manager PT Pelindo IV Bitung melalui staf bagian penerima tamu malah berkilah akan melakukan rapat,  sehingga belum bisa menerima wartawan. Padahal sebelumnya ia sudah meminta ID Card wartawan untuk dilihatnya. “Maaf bapak akan rapat, bapak menyarankan  hubungi saja menejer teknik TPB (Terminal Petikemas Bitung) pak Benny”, ujar staf piket,  seraya menyodorkan secarik kertas berisi nomor telepon.

Sebaliknya menejer teknik TPB justru menolak memberikan penjelasan terkait masalah reklamasi yang sudah membahayakan alur laut kapal ferry. Ia bahkan beralasan yang lebih berwewenang memberikan klarifikasi adalah General Manager.

Reklamasi dermaga pelabuhan petikemas (kontener) PT Pelindo IV ini, kabarnya bagian dari proyek perpanjangan dermaga seluas 131×35 m2 dan reklamasi seluas 5 hektare, yang dimulai sejak awal tahun ini.

PT. Pelindo IV menggelontorkan investasi Rp.800 miliar hingga Mei tahun 2018 untuk meningkatkan kapasitas tampung peti kemas di Pelabuhan Bitung, hingga 1,5 juta TEUs (Twenty-foot Equivalent Units). Sumber dana untuk investasi berasal dari Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp.365 miliar, sisanya dari kas perseroanPelindo IV.

Perluasan dermaga terminal petikemas Bitung, sudah dilakukan sejak tahun 2014 lalu dari sekitar 130 meter menjadi 460 meter. Perpanjangan dermaga itu dilakukan dalam dua tahap, yakni pada tahun 2014 sepanjang 65 meter, sedangkan sisanya 65 meter tahun 2015. Total dana untuk proyek ini Rp. 60 miliar. (Jeffry)

Advertisements

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here