5 Barongsai Bitung Dikerumuni Warga

0
387
Seorang karyawati sebuah bank swasta di kota Bitung bangga berfoto bersama dengan barongsai merah, meskipun dia bukan warga Tionghoa. Barongsai adalah bagian dari tradisi warga Indonesia keturunan Tionghoa. (jeff)

INDONESIA BLITZ, BITUNG – Lima barongsai yang turun ke sejumlah tempat usaha warga Tionghoa di pusat kota Bitung, Sulawesi Utara mendapat sambutan antusias masyarakat. Bahkan sejumlah barongsai terlihat dikerumuni warga yang mengajak berfoto bersama.

Barongsai atau tarian singa menjadi salahsatu momen penting dalam mengisi tahun baru Imlek bagi warga Indonesia keturunan Tionghoa di kota Bitung. Lima hari menjelang prosesi ritual Goan Siau,  warga Tionghoa umat Tri Dharma Klenteng Seng Bo Kiong di kelurahan Kadoodan, menggelar parade barongsai yang turun ke tempat usaha, toko maupun rumah, Senin hingga Rabu.

Lebih dari 20 toko, bank dan rumah dikunjungi rombongan barongsai ini. Sejumlah pemilik toko, pimpinan cabang dan karyawan bank serta penghuni rumah terlihat antusias menerima kedatangan barongsai. Mereka bahkan sudah menyiapkan amplop angpao atau hadiah berisi uang dalam amplop dengan menggantungnya  di depan pintu maupun di dalam ruangan. Angpao ini memiliki makna kegembiraan dan semangat yang akan membawa nasib baik.

Tiap barongsai yang diperagakan dua pemuda cukup kekar, akhirnya melakukan gerakan memakan amplop angpao yang disebut dengan istilah lay see. Di atas amplop ada yang menyisikan sayuran selada air chai shin, namun ada pula yang tidak. Sayur ini yang melambangkan hadiah bagi sang singa.

Barongsai memasuki sejumlah ruangan toko, bank dan rumah, karena dipercaya dapat membersihkan suatu tempat dari hal-hal negatif. Bahkan dalam feng shui,  barongsai memiliki arti yang dapat membuat tempat usaha menjadi lebih bagus, karena  mengusir roh halus yang tidak baik.

Barongsai adalah bagian tradisi warga Tionghoa sejak ribuan tahun lalu, sebagai simbol pembawa kesuksesan dan keberuntungan. Karena itu, bagi warga Indonesia keturunan Tionghoa, mereka berharap ini harus tetap dilestarikan. “Ini merupakan suatu budaya,  karena di Indonesia terdiri dari beribu-ribu macam budaya. Dan ini tiap tahun dirayakan. Sebagai warga Indonesia, kita harus mendukung sebab ini bagian dari budaya yang patut dilestarikan”,  kata Ketua DPRD Kota Bitung,  Laurensius Supit, usai menerima rombongan barongsai di tokonya, Selasa sore.

Hiruk pikuk rombongan barongsai ini mendapat perhatian masyarakat kota Bitung. Berbagai lapisan masyarakat dari sejumlah suku dan agama terlihat antusias menyaksikan atraksi barongsai ini. Bahkan kunjungan ke tempat usaha maupun rumah,  lebih banyak tersita waktunya untuk melayani warga yang meminta berfoto atau selfie bersama para barongsai. Terlihat beberapa barongsai sering sudah diajak ‘melenceng’ dari jalur kunjungan karena sudah ditarik sejumlah wanita untuk berfoto ria. “Maaf torang kwa suka mo ba foto deng barongsai karena unik dan kadang-kadang ada”, kata Candy, seorang karyawati sebuah toko.

Memang barongsai dari Klenteng Seng Bo Kiong Bitung hanya bisa turun jika prosesi Goan Siau mendapat restu dari Thian (Tuhan). Ritual Goan Siau di kota Bitung tahun ini direstui, sehingga ada parade barongsai mengunjungi rumah dan tempat usaha warga Tionghoa.

Ada lima warna barongsai yang diterjunkan klenteng seng bo kiong masing-masing merah, kuning emas, hitam, hijau dan ungu. Barongsai dengan warna merah melambangkan keberanian, kuning emas melambangkan kegembiraan, barongsai warna hitam adalah barongsai dengan umur yang paling muda. Sedangkan barongsai dengan warna hijau melambangkan pertemanan, warna ungu adalah barongsai modern yang berarti keberuntungan.

Sehari sebelumnya, rombongan barongsai kota Bitung ini juga turun di sejumlah toko di Kota Manado. Lebih dari 30 toko milik umat Tri Dharma dikunjungi. Bahkan ada banyak pemilik toko lain yang tidak masuk dalam daftar kunjungan tiba-tiba meminta kesediaan dikunjungi,  karena melihat tetangga mereka mendapat pelayanan tim barongsai.

Hari Rabu ini, rombongan barongsai juga turun di pusat pertokoan dan rumah umat di Madidir, Girian, dan Manembo-nembo kota Bitung. Ini adalah hari terakhir parade barongsai turun menemui warga Tionghoa karena hari Jumat tanggal 2 Maret akan masuk proses Goan Siau dengan ritual keliling para Tang Sin di kota Bitung. ***

Advertisements

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here