Proyek Puluhan Miliar di Perbatasan Mubazir

0
252
Dermaga Kapal Ferry di Pulau Marore senilai lebih dari Rp 8 Miliar, hingga kini belum berfungsi, karena tidak dilewati jalur kapal.

indonesiablitz.com, Tahuna – Sebuah kebanggaan bagi seluruh warga negeri Tampungang Lawo, Sangihe, karena perhatian pemerintah pusat dengan mengucurkan anggaran lewat berbagai kementerian untuk membangun beragam fasilitas, seperti sarana penunjang perikanan, dermaga kapal fery di Kecamatan Kepulauan Marore, yang tujuannya untuk kesejahteraan seluruh masyarakat.

Namun apa jadinya, jika sejumlah proyek yang telah dibangun dan menghabiskan uang Negara hingga puluhan miliar itu, tidak bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat alias mubazir.

Salah seorang tokoh masyarakat Sangihe, Roy Onthoni, kepada media indonesiablitz.com, pada Rabu (25/7), mengungkapkan sebetulnya bantuan dana yang digelontorkan pemerintah pusat melalui berbagai kementerian untuk membangun sejumlah proyek di wilayah perbatasan, yakni  Kabupaten Kepulauan Sangihe, semenjak beberapa tahun lalu, namun menjadi mubazir, karena tidak digunakan optimal oleh masyarakat setempat. Jika ditotal jumlahnya  angka di atas 50 miliar rupiah.

“Mestinya, masalah ini mendapat perhatian serius dari aparat penegak hukum untuk mengusutnya hingga tuntas. Caranya, instansi teknis selaku pengelola proyek yang sumber dananya berasal dari bantuan pemerintah pusat, ditelisik,” ujar Onthoni.

Menurut Roy Onthoni, pembangunan infrastruktur di wilayah perbatasan, yang berada di Kabupaten Kepulauan Sangihe, tanpa perencanaan yang tepat. ” Sebelum proyek dikerjakan seharusnya dilakukan visibility study ( study kelayakan), dan yang lebih penting menanyakan kepada masyarakat mengenai kebutuhan infrastruktur yang akan dibangun” tambah Onthoni.

Dia memastikan dibalik sejumlah proyek miliaran yang tidak bisa dimanfaatkan alias mubazir itu karena ada masalah, yang patut diselidiki secara hukum. Ia kemudian menyebutkan sejumlah proyek mubazir bernilai miliaran rupiah, diantaranya, Dermaga kapal fery di Kecamatan Kepulauan Marore yang dibangun tahun 2015 lalu dengan anggaran sekitar Rp 8 miliar, hingga saat ini tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Demikian juga cool storage (pembekuan ikan) di Pulau Matutuang benilai Rp 4 miliar yang dibangun tahun 2015, hingga saat ini tak bisa difungsikan. Pembuatan Kapal Motor Tampungang Lawo, tahun 2015, menghabiskan anggaran Rp 11,5 miliar, hingga saat ini tidak bisa dimanfaatkan, bahkan kondisi kapal tersebut sudah mulai rusak termakan karat.

Tiga dermaga jety yang dibangun di teluk Tahuna, dengan total anggaran sekitar Rp 12 miliar, hanya berupa tumpukan batu besar, tak ada bentuknya dan tidak bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat banyak. Termasuk sejumlah pembangunan gedung pengolahan sagu yang hingga kini tak bisa dimanfaatkan oleh masyarakat setempat. (allen/onal)

Advertisements

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here