Pangalila Desak Polisi Tindak Usaha Besi Tua Perusak Lingkungan

0
157
Aktivitas pembuangan air aki di depan lokasi penumpukan besi tua, milik HS di Kelurahan Madidir Unet

Indonesiablitz.com – Wakil Kepala Sekolah Sungai Kota Bitung, Ferdy ‘Epang’ Pangalila mendesak aparat Kepolisian menindak usaha besi tua yang diduga membuang limbah Bahan Beracun dan Berbahaya sembarangan. Salah satu usaha besi tua yang melakukan hal tersebut yakni milik pengusaha berinisial HS, yang berada di Madidir, Kecamatan Madidir, pada Rabu 30/1/2019.

” Kami siap memberikan bukti-bukti bahwa usaha pengumpulan besi tua milik HS, dugaan kuat melakukan pelanggaran Undang-Undang Lingkungan Hidup, sesuai bukti-bukti kami. Saluran air di sekitar lokasi tercemar asam, yang berasal dari air baterai accu. Kami akan memberikan bukti, namun dengan syarat tidak ‘main-main’ dengan proses hukum” tegas Pangalila.

Menurut Epang, yang juga seorang aktivis lingkungan hidup di Kota Bitung, dugaan perusakan lingkungan yang dilakukan usaha penumpukan besi tua tersebut mencemari nama baik Kota Bitung sebagai Kota Adipura.

” Akibat tindakan ini, biota air di selokan pasti punah. Air Accu ini termasuk Bahan Beracun dan Berbahaya (B 3),Membuang limbah B3 tanpa melalui proses IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) akan membunuh kehidupan hayati. Apalagi Pemerintah Kota Bitung sedang gencar mensosialisasikan sebagai Low Carbon Model Town (LCMT),” sembur Pangalila.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bitung, Sadat Minabari mengatakan pihaknya akan menurunkan tim untuk melakukan penyelidikan.

” Saya baru mendapat laporan ini, kami akan memberikan teguran dan sanksi, jika hal tersebut dilakukan oleh pengusaha penumpukan besi tua,” tegas Minabari.

Ferdy Pangalila menegaskan bahwa Komunitas Sekolah Sungai mengutuk keras, pelanggaran lingkungan hidup oleh penumpukan besi tua milik HS. Selama ini pelanggaran undang-undang Lingkungan Hidup hanya diberi sanksi peringatan oleh Dinas Lingkungan Hidup.

” Kini saatnya aparat penegak hukum menindak tegas pelanggar UU Lingkungan, bukan hanya dengan peringatan. Sesuai UU 32 tahun 2009, tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pelanggarnya diancam hukuman maksimal 5 tahun kurungan dan denda Rp 1 Miliar,” tegas Pangalila.

Hal tersebut harus dilakukan agar para pelanggar UU Lingkungan Hidup jera. Epang Pangalila juga mendesak Pemerintah Kota Bitung, segera menutup seluruh perijinan usaha penumpukan besi tua milik HS, karena sudah berkali-kali melakukan pelanggaran lingkungan.

” Pemkot Bitung harus menindak tegas usaha yang merusak lingkungan, karena lingkungan ini bukan warisan dari leluhur, tetapi titipan anak cucu kita,” pungkasnya.

Advertisements

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here