Cara Perhitungan Kursi DPRD Dengan Metode Sainte Lague

0
182
Vote/ Ilustrated

Indonesiablitz.com- Karena banyaknya pertanyaan kepada redaksi Indonesiablitz.com, dari para Caleg, Tim sukses dan masyarakat, tentang tata cara perhitungan kursi DPR, dalam kontestasi Pemilu 2019, maka artikel ini diturunkan. Karena Pemilu 2019 berbeda dengan Pemilu sebelumnya.

Pada Pemilu tahun 2014, menggunakan metode Bilangan Pembagi Pemilih ( Quote Harre), sedangkan Pemilu 2019 ini menggunakan metode Sainte Lague. Metode ini dikenalkan oleh Ahli Matematika asal Perancis Andre Sainte Lague, pada tahun 1910. Lebih dari 100 tahun, Indonesia baru mengadopsi metode ini.

Nah, Bagaimanakah Perhitungan Kursi Anggota DPRD ?

Sengaja redaksi memberikan contoh DPRD, karena untuk DPR-RI, harus lebih dulu lolos ‘saringan’ ambang batas parlemen (parliamentary threshold). Baru kemudian hasil suara parpol di bagi dengan bilangan ganjil: 1, 3, 5, 7 dst.

Asumsi Daerah Pemilihan (Dapil) Neraka, dengan 6 kursi
1. Partai A mendapat 5.500 suara (2 kursi, kursi pertama dan kelima)
2. Partai B mendapat 3.300 suara (1 kursi)
3. Partai C mendapat 2.800 suara (1 kursi)
4. Partai D mendapat 2.500 suara (1 kursi)
5. Partai E mendapat 1.700 suara (1 kursi)
6. Partai F mendapat 1.699 suara ( tidak mendapat kursi)

Kursi pertama, Semua hasil perolehan suara partai politik dibagi dengan angka satu, partai dengan suara terbanyaklah yang memiliki hak kursi pertama, yakni partai A dengan 5.500 suara.

Kursi kedua,Partai A sudah mendapat 1 kursi sehingga selanjutnya dibagi dengan tiga, 5.500 :3 = 1.833. Sedangkan Partai B,C,D,E,F masih dibagi satu, sehingga Kursi kedua menjadi hak Partai B, dengan 3.300 suara

Kursi Ketiga, Partai A, 5.500 : 3 = 1.833. Partai B, 3.300 : 3 = 1.100. Partai C,D,E,F, masih dibagi satu, sehingga kursi ketiga menjadi hak Partai C, dengan 2.800 suara.

Kursi keempat, Partai A, 5.500 : 3 = 1.833. Partai B, 3.300 : 3= 1.100. Partai C, 2.800 : 3= 933 suara. Partai D,E, F masih dibagi satu, sehingga kursi keempat menjadi hak Partai D, dengan 2.500 suara.

Kursi kelima, Partai A, 5.500 : 3 = 1.833. Partai B, 3.300 : 3= 1.100. Partai C, 2.800 : 3= 933 suara. Partai D, 2.500 : 3 = 833. Partai E dan F masih dibnagi satu, yakni Partai E dengan 1.700 suara dan Partai F dengan 1699 suara. Sehingga kursi kelima menjadi hak Partai A, dengan 1.833 suara, dan untuk selanjutnya Partai A dibagi dengan 5.

Kursi keenam, Partai A, 5.500 : 5= 1.100. Partai B, 3.300 : 3= 1.100. Partai C, 2.800 : 3= 933 suara. Partai D, 2.500 : 3 = 833. Partai E dan F masih dibnagi satu, yakni Partai E dengan 1.700 suara dan Partai F dengan 1699 suara. Sehingga kursi kelima menjadi hak Partai E, dengan 1.700 suara.

Kelebihan dan Kekurangan

Partai besar diuntungkan dengan meraup kursi lebih dari satu, jika memiliki jarak perbedaan perolehan suara cukup besar dengan partai lain. Jika suara berimbang, maka perolehan kursi akan merata (satu kursi).

Semua Parpol memiliki derajat yang sama untuk mendapatkan kursi. Partai kecil namun memiliki Caleg berkualitas yang mampu meraup suara bagus akan mendapatkan kursi dalam Pemilu ini.

Partai yang besar namun Calegnya kurang berpengaruh, maksimal hanya mendapatkan satu kursi, bahkan terancam tidak mendapatkan kursi. Sehingga partai kecil ataupun besar, memiliki hak yang sama untuk merebut suara rakyat. ( Redaksi/Andry Anthoni)

Advertisements

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here