Bupati Gaghana Resmikan Monumen Ade Irma Nasution di Halaman Rumah Sang Pengasuh

0
74
Bupati Jabes Ezar Gaghana Saat Meresmikan Monumen Ade Irma Nasution di Halaman Rumah Oma Alpiah Makasebape di Kelurahan Dumuhung Kecamatan Tahuna Timur, Rabu (30/9)


INDONESIABLITZ.COM, Sangihe -Bupati Kabupaten Kepulauan Sangihe, Jabes Ezar Gaghana, meresmikan monumen Ade Irma Suryani Nasution, yang turut menjadi korban keganasan G30S/PKI tahun 1965 di halaman rumah milik Oma Alpia Makasebape sang pengasuh putri Jendral AH Nasution itu di Kelurahan Dumuhung Kecamatan Tahuna Timur, Rabu (30/9).

Oma Alpia Makasebape yang kini berusia 84 tahun itu merupakan salah satu saksi hidup atas terbunuhnya Ade Irma Nasution akibat terkena tembakan dari sekelompok orang yang kala itu hendak menghabisi Jendral AH Nasution. Oma Alpia menuturkan Ade Irma menghembuskan nafas terakhirnya dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Peresmian Monumen Ade Irma Nasution oleh Bupati Gaghana, diawali dengan penandatanganan prasasti yang turut disaksikan oleh Dandim 1301 Sangihe, Letkol Inf Rachmat Christanto bersama Oma Alpiah Makasebape dan keluarga.

Dalam sambutannya, Bupati Gaghana menyampaikan apresiasi serta penghargaan setinggi-tingginya kepada Alfian Walukow, atas dedikasinya yang telah menuliskan kisah Oma Alpiah Makasebape, sang pengasuh putri Jendral AH Nasution juga sebagai saksi hidup atas kekejaman kelompok PKI pada tanggal 30 September 1965 itu, hingga dibangunnya monumen Ade Irma Nasution di halaman rumah Oma Alpiah.

“Monumen ini mengingatkan kita semua bahwa dari Sangihe terdapat seorang wanita yang ikut melakukan pendampingan keluarga Jenderal AH Nasution, juga sebagai saksi sejarah yang masih hidup dengan kisahnya yang ditulis secara apik oleh pak Walukow,” ujar Gaghana.

Pengasuh Pahlawan Nasional (anumerta) Ade Suryani Nasution, Oma Alpiah Makasebape Bersama Bupati dan Dandim 1301 Sangihe

Gaghana mengatakan, sebagai anak bangsa, kiranya dapat memahami dan mereflekesikan apa yang dikisahkan oleh Oma Alpiah untuk disampaikan kepada generasi muda di Sangihe agar meneladaninya.

“Sejarah adalah sebuah pembuktian, dimana sebagai bangsa yang besar harus menghargai setiap perjuangan para pahlawan yang telah berjuang untuk Nusa dan bangsa. G30S PKI, adalah sejarah kelam yang tidak boleh dilupakan begitu saja. Apa yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan kala itu adalah untuk menjaga keutuhan bangsa dalam bingkai NKRI,” kata Gaghana.

Sementara itu, Dandim 1301/Sangihe Letkol Inf Rachmat Christanto, mengatakan, Pendirian Monumen ini merupakan wujud penghargaan setinggi-tingginya dan rasa terimakasih atas jasa ibu Alpiah Makasebape, yang telah mengasuh almarhumah Ade Irma Suryani Nasution sekaligus menjadi saksi hidup kekejaman peristiwa G30S/PKI pada waktu silam.

“Ini merupakan aspirasi dan sejarah yang harus terus kita ingat, agar peristiwa tersebut tidak terulang kembali. Monumen ini untuk mengingatkan kita semua, khususnya generasi muda dan masyarakat sangihe bahwa saksi hidup peristiwa G30S/PKI merupakan putri terbaik dari Kabupaten Kepulauan Sangihe yang saat ini masih ada,” ujar Chtistanto.

Oma Alpaih sendiri memberikan penjelasan serta memperlihatkan bahwa barang-barang milik Ade Irma Suryani Nasution yang diberikan oleh keluarga Nasution-Gondokusumo merupakan kenang-kenangan dan pengingat bahwa ia pernah menjadi perawat Ade Irma Suryani sejak 1960.

Dia kemudian menuturkan perlakuan keluarga Nasution – Gondokusumo, yang begitu baik dan sangat sayang kepadanya selama ia menjadi perawat dalam keluarga Jendral AH Nasution. Peresmian monumen Ade Irma Suryani Nasution oleh Bupati Kepulauan Sangihe dalam rangka refleksi memperingati penghianatan Gerakan 30 September yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia dan sebagai pengingat bahwa terdapat orang dari Kepulauan Sangihe yang juga menjadi saksi sejarah nan kelam itu. (onal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

11 − eight =